GOKU LINK

GOKU LINK

“Daerah yang Menjadi Rasi Bintang” Bab 4: Beras yang Membangun Komunitas

Saat berjalan-jalan di pedesaan Niigata, terlihat saluran-saluran air yang sempit membentang di antara sawah-sawah.

Ini adalah saluran irigasi. Air yang mengalir dari pegunungan akan dialirkan ke sawah mana, kapan, dan dalam jumlah berapa. Jaringan saluran irigasi tersebut membentang sepanjang beberapa kilometer dan mencakup seluruh pemukiman. Air mengalir, menyirami sawah, lalu mengalir ke saluran berikutnya. Sekilas, pemandangan ini tampak biasa saja, namun untuk mempertahankan sistem ini, diperlukan kerja sama dan kesepakatan dari seluruh warga pemukiman.

Budidaya padi telah membentuk sebuah komunitas. Inti dari hal tersebut terletak pada pengelolaan air ini.

Sebenarnya, mengapa budidaya padi menyebar di Jepang?

Di Jepang yang bergunung-gunung dan memiliki dataran rendah yang terbatas, tantangan utama untuk bertahan hidup adalah memberi makan sebanyak mungkin orang dari lahan yang terbatas. Jawabannya adalah padi. Padi adalah tanaman yang dapat menghasilkan pangan dalam jumlah besar secara stabil dari lahan yang terbatas.Sebagai tanaman yang memungkinkan banyak orang hidup di lahan yang sempit, padi merupakan salah satu jawaban utama bagi kelangsungan hidup banyak orang di negeri ini. Padi dapat disimpan dalam waktu lama, kaya akan nutrisi, dan mampu beradaptasi secara luas dengan iklim serta topografi Jepang asalkan tersedia air. Pilihan untuk menanam padi inilah yang memungkinkan banyak orang bertahan hidup dalam jangka panjang di negara kepulauan ini.

Namun, budidaya padi memiliki ciri khas yang sangat menentukan, yaitu kebutuhan akan air dalam jumlah besar dan secara terus-menerus.

Gandum dan jagung memang juga membutuhkan air, tetapi tidak memerlukan sistem yang melibatkan seluruh pemukiman untuk terus mengisi sawah dengan air seperti halnya dalam budidaya padi. Tentu saja ada kerja sama, tetapi dalam hal pengelolaan air, setiap petani dapat bertindak secara mandiri sampai batas tertentu. Berbeda dengan padi. Sawah harus selalu diisi dengan air dalam jumlah yang tepat, dan saluran irigasi yang mengalirkan air dari pegunungan itu harus terus diawasi oleh seseorang.

Saluran irigasi ini bukan milik satu petani saja. Dari hulu hingga hilir, saluran ini merupakan aset bersama yang digunakan oleh semua petani di dusun tersebut. Jika petani di hulu menguasai air sendirian, sawah di hilir akan mengering.Jika ada yang lalai dalam mengelola saluran irigasi, endapan tanah akan menyumbat saluran dan berdampak pada keseluruhan sistem. Untuk menentukan pembagian air, memelihara saluran irigasi, dan menyelesaikan masalah, seluruh penduduk desa harus berdiskusi, membuat aturan, dan mematuhi aturan tersebut.

Sistem berbagi air merupakan akar dari komunitas di Jepang. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, sistem berbagi air telah dikembangkan di Jepang sejak zaman dahulu.

Budidaya padi telah mengubah pengelolaan bersama tersebut menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Air bukanlah milik pribadi, melainkan harta bersama masyarakat desa.

Dengan memilih bertani padi, pemukiman-pemukiman di Jepang pun harus hidup berdampingan dengan “pengelolaan air secara bersama-sama”.

Untuk mengelola sumber daya air secara kolektif, diperlukan komunitas yang kokoh. Budaya yang bertujuan untuk mempertahankan komunitas tersebut telah berkembang dalam berbagai bentuk di berbagai wilayah Jepang.

Sering dikatakan bahwa orang Jepang sangat menghargai adat istiadat dan mengutamakan keharmonisan dalam kelompok. Namun, bukankah hal itu sebenarnya merupakan kebijaksanaan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka?

Agar pengelolaan saluran irigasi dapat terus berlanjut, seluruh penduduk desa harus bekerja sama dalam jangka panjang. Jika ada satu orang saja yang bertindak semaunya, pengelolaan air secara keseluruhan akan terganggu. Budaya “mematuhi aturan yang telah disepakati bersama” ini muncul dari kebutuhan untuk melindungi komunitas yang berbagi sumber air.

Demikian pula halnya dengan adat dan kebiasaan. Setiap tahun, air dialirkan pada waktu yang sama, dan penanaman padi dilakukan pada waktu yang sama pula. Dengan menyelaraskan jadwal tersebut di seluruh pemukiman, pembagian air pun berjalan lancar. Mengikuti praktik yang telah ada sebelumnya memiliki makna praktis dalam mengurangi biaya koordinasi di dalam komunitas.

Mungkin saja, di balik rasa yang sering digambarkan sebagai “menghargai keharmonisan” ini, terdapat pula gaya hidup pengelolaan bersama semacam ini.

Semangat kebersamaan yang lahir dari budidaya padi pun diwariskan ke tempat-tempat yang jauh dari sawah.

Festival adalah contoh yang paling menonjol. Festival ini bermula sebagai upacara yang diadakan pada saat penanaman padi dan panen, untuk memohon panen yang melimpah serta mengucap syukur atas hasil panen. Bukan secara individu, melainkan seluruh penduduk desa bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan. Berbagi momen tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan komunitas.Kembang api Nagaoka juga terus berlangsung sebagai wadah untuk berbagi doa bagi arwah para korban dan pemulihan.

Perhimpunan warga dan organisasi kemasyarakatan juga merupakan bagian dari tradisi komunitas petani padi. Mulai dari pembersihan jalan, penanggulangan bencana, hingga persiapan acara-acara lokal. Ada beberapa pekerjaan yang akan berjalan lebih lancar jika dilakukan secara mandiri oleh komunitas setempat, daripada jika pemerintah meminta bantuan individu. Semangat “melindungi wilayah kita sendiri” telah ada sejak zaman ketika saluran irigasi dikelola secara bersama-sama.

Terutama di daerah bersalju, semangat ini masih sangat kental. Setiap musim dingin tiba, tantangan bersama berupa salju telah menyatukan masyarakat. Mereka saling membantu membersihkan salju di rumah tetangga dan bekerja sama membuka jalan. Akumulasi tindakan-tindakan tersebutlah yang telah membangun ikatan komunitas dalam kehidupan sehari-hari.

Di Nagaoka, terdapat dua cerita yang menceritakan kearifan lokal daerah ini.

Yang pertama adalah “Seratus Hyō Beras”. Klan Nagaoka, yang kalah dalam Perang Boshin, mengalami pukulan yang sangat telak. Di tengah kesulitan para samurai klan tersebut untuk mendapatkan makanan, tiba-tiba datanglah seratus hyō beras dari klan cabang. Tentu saja, muncul usulan untuk membagikan beras tersebut sebagai bahan pangan.Namun, Kobayashi Torasaburō, yang saat itu menjabat sebagai gubernur, memutuskan untuk menjual beras tersebut dan menggunakan hasilnya untuk mendirikan sekolah.

“Seratus bō beras pun, jika dimakan, akan segera habis. Namun, jika digunakan untuk pendidikan, hal itu akan menjadi sepuluh ribu atau satu juta bō beras di masa depan.”

Justru karena saat ini sedang sulit, kita harus berinvestasi untuk masa depan. Semangat “Seratus Gantang Beras” adalah bentuk investasi bagi generasi mendatang. Bukan menghabiskan beras yang ada saat ini, melainkan menyimpannya untuk generasi mendatang. Itulah inti dari rasa tanggung jawab sebagai “penjaga” yang dipercayakan.

Yang kedua adalah kisah tentang cawan yang disebut “Cawan Cukup”.

Ada sebuah cawan dengan mekanisme khusus yang konon digunakan oleh Keluarga Makino dari Domain Nagaoka untuk menyampaikan pesan kepada para samurai domain tersebut. Sekilas, cawan ini tampak seperti cawan biasa, tetapi begitu cairan dituangkan melebihi delapan per sepuluh bagian, prinsip sifon akan bekerja sehingga seluruh cairan di dalamnya akan mengalir keluar dari bagian bawah.

Itulah ajaran untuk mengetahui batas yang cukup.

Pada saat kita serakah dan berusaha mengisi wadah hingga penuh, kita justru akan kehilangan segalanya. Puas dengan delapan per sepuluh bagian adalah kunci untuk mempertahankan sesuatu dalam jangka panjang. Jika kita menguasai saluran irigasi sendirian, komunitas akan hancur. Jika kita menghabiskan seluruh beras, tidak akan ada yang tersisa bagi generasi berikutnya. Cangkir Sepuluh adalah alat yang menyampaikan prinsip tersebut bukan melalui kata-kata, melainkan melalui pengalaman.

Saya merasa bahwa rasa “puas dengan apa yang ada”, yang ditumbuhkan oleh komunitas yang saling berbagi air, telah mengakar dalam jiwa kota Nagaoka.

Jika kita melihat masyarakat lokal saat ini, terlihat bahwa komunitas ini sedang goyah.

Semakin banyak keluarga yang berhenti bertani, sehingga sawah berubah menjadi lahan perumahan. Seiring dengan semakin maraknya pola keluarga inti, kesempatan untuk bertemu dengan tetangga pun semakin berkurang. Tingkat keanggotaan dalam perkumpulan warga menurun, sehingga tidak ada cukup orang yang bersedia menjadi panitia dalam perayaan. Bukan berarti kebutuhan untuk mempertahankan komunitas telah berkurang, melainkan fondasi yang selama ini membangun komunitas tersebut—yaitu budidaya padi—lah yang telah berubah.

Komunitas pun adalah sesuatu yang dipercayakan kepada kita.

Apakah generasi saat ini akan meneruskan “sistem hidup bersama” yang telah dibangun oleh para pendahulu selama beberapa generasi, dan menyerahkannya kepada generasi berikutnya? Menurut saya, bentuknya boleh saja berubah. Namun, semangat mendasar yang lahir dari budidaya padi, yaitu “saling mendukung satu sama lain untuk hal-hal yang tidak dapat dilakukan sendirian”, ingin saya wariskan kepada generasi berikutnya.

Berbagi air. Mengetahui batas kecukupan. Menyerahkannya kepada generasi mendatang.

Perasaan itu masih terasa hingga kini di kota Nagaoka.


ATSUSHI KABASAWA

FARM8 Co., Ltd.,

Bab berikutnya: “Daerah yang Menjadi Rasi Bintang” Bab 5: Kebijaksanaan Fermentasi dan Kekuatan Mikroorganisme


* Artikel ini telah diterjemahkan secara otomatis.

ATSUSHI KABASAWA Japan

Atsushi Kabasawa
Direktur Utama FARM8 Co., Ltd. Koordinator Konten Daerah.
Lahir pada bulan Juni 1979 di Kota Nagaoka, Prefektur Niigata.

Berbasis di Prefektur Niigata, ia menjalankan bisnis dengan tema pemanfaatan sumber daya daerah.
Ia telah menciptakan berbagai produk seperti Pon-shu Guria, Jo-gurt, dan SAKEPSOT, serta mendorong pengembangan produk dan layanan yang menghubungkan sumber daya (konten) yang selama ini terabaikan di daerah dengan gaya hidup masa kini.