Saat menatap langit malam, bintang-bintang tersebar tak terhitung jumlahnya.
Setiap bintang hanyalah sebuah titik yang berada di sana. Jika dilihat dari sudut pandang alam semesta, tidak ada garis apa pun yang menghubungkan satu bintang dengan bintang lainnya. Masing-masing hanya bersinar secara terpisah. Bintang-bintang yang berjarak puluhan atau ratusan tahun cahaya dari Bumi hanya kebetulan terlihat mengarah ke arah yang sama, namun pada kenyataannya tidak ada hubungan apa pun di antara mereka.
Namun, manusia telah menggambar garis di antara titik-titik tersebut.
Ada seseorang yang melihat seekor beruang.
Ada seseorang yang melihat si pemburu.
Ada juga yang melihat alat musik tategoto.
Sambil memandang bintang yang sama, setiap orang telah melihat dunia yang berbeda-beda.
Sambil memandang langit malam yang sama, setiap budaya telah menemukan bentuk yang sama sekali berbeda. Susunan bintang yang di Barat disebut Rasi Orion, dalam budaya kuno Jepang dipandang sebagai bentuk gendang. Melihat bintang yang sama, namun melihat hal yang berbeda. Ini bukanlah kesalahpahaman atau kesalahan, melainkan berarti masing-masing budaya memberikan makna tersendiri.
Bintang tidak akan berubah.
Yang berubah adalah makna yang ditemukan orang di sana.
Namun, hanya dengan menggambar garis saja, rasi bintang itu tidak akan bertahan.
Di balik rasi bintang yang masih ada, terdapat sebuah kisah.
Ada sebuah mitos.
Ada makna yang terkait dengan emosi manusia.
Di rasi bintang Orion terdapat sebuah kisah tentang seorang pemburu.
Pada perayaan Tanabata, ada kisah tentang Orihime dan Hikoboshi.
Hanya dengan menghubungkan titik-titik, hasilnya hanyalah sebuah garis.
Baru setelah ada orang yang memberikan makna berupa sebuah kisah, rasi bintang pun menjadi sesuatu yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lalu, bagaimana dengan garis yang tidak berarti?
Sebagai percobaan, saya akan memilih beberapa bintang di langit malam dan mencoba menggambar sebuah persegi. Saya akan memberinya nama. Namun, jika tidak ada kisah apa pun di baliknya, persegi itu tidak akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Keesokan paginya, persegi itu akan lenyap.
Jika tidak ada artinya, garis tersebut akan menghilang.
Yang akan bertahan selama seribu tahun bukanlah bentuknya, melainkan maknanya.
Bangunan akan lapuk. Peralatan akan rusak. Catatan yang tertulis pun akan kehilangan maknanya jika tidak terus dibaca oleh seseorang. Namun, makna itu sendiri akan tetap tersampaikan melampaui batas waktu melalui kata-kata, kisah-kisah, perayaan, dan budaya.
Bintang-bintang tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Namun, rasi bintang tetap ada karena manusia terus memberikan makna padanya.
Artinya, manusia yang membawanya. Selama manusia yang membawanya, hal itu tidak akan lenyap.
Rasi bintang bukan hanya sebuah kisah, tetapi juga merupakan kalender dan peta.
Makna bukanlah sekadar sesuatu yang menimbulkan rasa terharu.
Hal ini juga dapat dimanfaatkan secara praktis untuk mendukung perilaku manusia.
Hal yang sama juga terjadi di wilayah-wilayah.
Ada seseorang yang menaburkan kulit kenari di jalan pegunungan.
Saya tidak tahu nama orang itu. Saya juga tidak tahu kapan dia meletakkan itu. Namun, berkat kehadirannya, saya bisa berjalan tanpa terjatuh.
Saya menerima apa yang telah ditinggalkan oleh seseorang. Perasaan itu selalu muncul setiap kali saya berjalan di jalan setapak pegunungan.
Namun, jika dipikir-pikir sekarang, mungkin tindakan saja tidak cukup. Baru ketika seseorang menemukan makna di balik tindakan menyebar kulit kenari, barulah hal itu diteruskan sebagai kebijaksanaan kepada orang berikutnya. Dengan tersampaikannya makna bahwa “kulit kenari efektif untuk jalan berlumpur”, orang berikutnya pun akan melakukan hal yang sama. Itu bukanlah rantai tindakan, melainkan rantai makna.
Hal yang sama juga berlaku untuk pertunjukan kembang api di Nagaoka. Jika hanya sekadar tindakan meluncurkan kembang api, mungkin tradisi ini sudah punah sejak lama. Namun, karena makna “penghormatan kepada arwah korban dan doa untuk pemulihan” terus dipahami bersama, satu juta orang berkumpul setiap tahun. Melestarikan makna tersebut berarti melestarikan tradisi itu sendiri.
Wilayah juga sama seperti rasi bintang.
Begitu Anda mengetahui maknanya, hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat mulai terlihat.
Di Niigata terdapat “yukimuro”. Ini adalah sistem yang memanfaatkan salju untuk menyimpan bahan makanan pada suhu rendah. Bagi mereka yang memahami maknanya, hal ini tampak sebagai budaya daerah yang mencerminkan kearifan leluhur. Bagi mereka yang tidak memahaminya, hal ini hanya terlihat sebagai pekerjaan yang merepotkan untuk membersihkan salju.
Begitu pula dengan pabrik sake. Bagi mereka yang memahami maknanya, tempat itu tampak sebagai perwujudan khas daerah yang tercipta dari perpaduan air, beras, dan mikroorganisme. Bagi mereka yang tidak memahami maknanya, tempat itu tampak sebagai bangunan tua yang sudah usang.
Baik budaya fermentasi, sawah terasering, saluran irigasi, maupun festival daerah. Tergantung apakah kita dapat melihat makna yang terkandung di dalamnya, hal yang sama pun akan tampak sangat berbeda.
Bagi orang yang memahami maknanya, sesuatu itu tampak sebagai sumber daya; namun bagi orang yang tidak memahaminya, hal itu hanya tampak sebagai beban.
Bukan karena merupakan sumber daya maka ia tetap ada, melainkan karena memiliki makna, barulah ia menjadi sumber daya.
Kadang-kadang saya berpikir bahwa sebagian besar masalah penurunan populasi di daerah dan hilangnya sumber daya sebenarnya bermula dari hilangnya makna. Bukan karena jumlah penduduk berkurang sehingga sumber daya pun hilang, melainkan karena makna telah hilang sehingga orang-orang pergi, dan sumber daya pun ikut hilang. Seperti halnya ketika rasi bintang terlupakan, bintang-bintang itu pun kembali menjadi sekadar bintang biasa.
Tindakan itu akan lenyap. Namun, maknanya tetap ada.
Itulah sebabnya manusia terus-menerus memberikan makna.
Rasi bintang tetap ada karena selalu ada orang yang terus menceritakan maknanya.
Di daerah ini pun pasti sama.
Selama masih ada orang yang menceritakan maknanya, tanah itu akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di daerah ini, masih terdapat nilai-nilai yang belum diberi nama.
Saya menyebut upaya menemukan nilai tersebut dan menghubungkannya dengan makna sebagai pembangunan komunitas.
Bintang tidak langsung menjadi rasi bintang sejak awal.
Ketika seseorang menemukan maknanya, hal itu menjadi rasi bintang.
ATSUSHI KABASAWA
FARM8 Co., Ltd.,
Bab berikutnya: “Daerah yang Menjadi Rasi Bintang” Bab 9 : Kekuatan Tak Terlihat yang Menggerakkan Daerah