GOKU LINK

GOKU LINK

“Daerah yang Menjadi Rasi Bintang” Bab 10: Melihatnya dari Informasi atau Mengalaminya Sendiri?

Kita kini telah memasuki era di mana sebelum mencoba sesuatu, kita terlebih dahulu mencari informasi tentang hal tersebut.

Sebelum pergi ke restoran, saya membuka Tabelog. Sebelum memutuskan tujuan wisata, saya membaca ulasan. Sebelum menonton film, saya memeriksa peringkatnya. Informasi datang lebih dulu, baru kemudian pengalaman. Atau, kita merasa seolah-olah sudah mengalami sesuatu hanya berdasarkan informasi saja.

Hal itu sendiri bukanlah sesuatu yang buruk. Memanfaatkan informasi agar tidak salah pilih adalah hal yang masuk akal. Namun, kebiasaan yang mengutamakan informasi ini memiliki satu keterbatasan besar.

Betapapun akuratnya informasi yang disampaikan, hal itu tidak akan bisa menandingi pengalaman langsung.

Saya benar-benar menyadari keterbatasan ini ketika mencoba menyampaikan hal-hal yang bagi saya sudah biasa kepada orang lain.

Bagi saya yang dibesarkan di Nagaoka, kembang api adalah sesuatu yang selalu hadir setiap musim panas.

Sejak saya masih kecil, setiap bulan Agustus saya selalu pergi menonton kembang api. Suara rendah yang menggema di perut, cahaya yang memenuhi langit malam, dan sorak-sorai orang-orang di sekitar. Itulah arti Kembang Api Nagaoka bagi saya. Bahkan sebelum saya mengetahui sejarah dan skalanya sebagai informasi, saya sudah merasakannya secara langsung.

Jadi, setiap kali saya mencoba menjelaskan tentang Kembang Api Nagaoka kepada orang yang belum mengenalnya, saya selalu merasa kata-kata yang saya gunakan tidak cukup.

Satu juta pengunjung. Salah satu dari tiga pertunjukan kembang api terbesar di Jepang. Awalnya dimulai sebagai bentuk penghormatan kepada arwah korban dan doa untuk pemulihan. Informasi seperti itu memang bisa saya sampaikan. Namun, ketika orang yang mendengarnya berkata, “Wah, luar biasa,” berarti hal yang ingin saya sampaikan belum tersampaikan.

Pada akhirnya, yang bisa saya katakan hanyalah, “Silakan datang sekali saja.”

Pada saat “Phoenix”—yang bisa dibilang sebagai simbol Kembang Api Nagaoka—dimulai, suasana di seluruh lokasi acara pun berubah. Cahaya menyebar memenuhi langit, dan suara yang menggema hingga ke lubuk hati terdengar jelas. Semua orang yang hadir menengadah ke arah yang sama.Terkadang, tanpa disadari, kita bertukar pandang dengan orang asing di sebelah kita. Suasana seperti itu tidak mungkin tersampaikan melalui rekaman video. Ketika mencoba mengungkapkannya dengan kata-kata, ada sesuatu yang terlewatkan. Saya rasa, apa yang terukir dalam diri kita tidak dapat sepenuhnya diubah menjadi informasi.

Informasi dan pengalaman, meskipun membahas hal yang sama, sebenarnya sangat berbeda.

Informasi adalah “mengetahui”. Pengalaman adalah “merasakan”. Mengetahui dan merasakan adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan ini kelihatannya sederhana, namun sebenarnya memiliki dampak yang sangat mendalam.

Bagi orang yang menonton Kembang Api Nagaoka melalui tayangan video dan orang yang secara langsung merasakan getarannya di lokasi acara, makna yang terkandung dalam istilah “Kembang Api Nagaoka” itu berbeda. Meskipun menggunakan kata yang sama, gambaran yang ada di benak mereka sangatlah berbeda. Itulah sebabnya terkadang pembicaraan mereka tidak sejalan.

Ada hal-hal dalam pengalaman yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan informasi.

Namun, informasi tanpa pengalaman itu seperti memiliki peta tetapi tidak pernah melakukan perjalanan.

Cerita ini merupakan kelanjutan dari bab sebelumnya.

Kekuatan yang tak terlihat tidak dapat disampaikan melalui informasi. Membaca kisah terowongan yang digali dengan tangan di Yamakoshi dan berpikir “luar biasa”, serta berdiri langsung di hadapan dinding batu itu, adalah dua pengalaman yang sama sekali berbeda. Baik kepercayaan, kenangan, maupun kecintaan terhadap tanah air, semuanya dapat dijelaskan sebagai informasi, namun hanya melalui pengalamanlah kita dapat merasakannya.

Makna baru akan menjadi milik kita sendiri—terlepas dari informasi—setelah kita mengalaminya sendiri.

Ungkapan “menerima karunia kehidupan” yang saya baca di buku, dan makna “menerima karunia kehidupan” yang dirasakan oleh seseorang yang secara langsung mengalami proses memelihara hewan hingga mengirimkannya ke pasar selama bersekolah di SMA pertanian, memiliki bobot yang berbeda meskipun menggunakan kata yang sama. Cerita tentang SMA pertanian yang saya tulis di Bab Pertama juga menunjukkan bahwa pengalamanlah yang menjadikan informasi itu nyata.

Hal yang sama juga berlaku untuk nilai-nilai lokal.

Ada perbedaan makna antara orang yang mengenal sake Niigata melalui istilah “tanrei karakuchi” dan orang yang pernah berdiri di gudang sake pada musim dingin sambil menikmati sake sambil merasakan suasana proses pembuatan sake. Ada perbedaan makna antara orang yang melihat sawah terasering hanya melalui foto dan orang yang pernah memanen padi di sana secara langsung; makna yang terkandung dalam istilah “sawah terasering” pun berbeda bagi keduanya.

Baru setelah mengalami sendiri, informasi tersebut menjadi bermakna.

Namun, tidak semua orang yang memiliki pengalaman tersebut mampu mengungkapkannya dengan kata-kata.

Sebagai seseorang yang dibesarkan di Nagaoka, saya memahami nilai kembang api secara langsung. Namun, untuk menyampaikan hal itu kepada orang luar, saya harus menerjemahkannya ke dalam bentuk informasi. Mengubah pengalaman menjadi informasi adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai daerah ini ke luar.

Sebaliknya, ketika orang dari luar membawa pulang pengalaman mereka, informasi tentang daerah tersebut menjadi lebih otentik.

Ada pepatah yang mengatakan, “Seratus kali mendengar tidak sebanding dengan sekali melihat,” namun di zaman sekarang mungkin hal itu sedikit berbeda. Menurut saya, ungkapan “Seratus kali melihat tidak sebanding dengan sekali mengalami” lebih tepat. Betapapun seringnya kita melihat video atau foto, hal itu tetap tidak sebanding dengan pengalaman langsung.

Orang-orang yang pernah menyaksikan pertunjukan kembang api pasti akan datang lagi tahun depan.

Orang yang hanya tahu dari informasi mungkin berpikir, “Mungkin lebih baik tidak pergi saja karena pasti ramai.” Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, ada alasan mengapa mereka ingin merasakan kembali suara dan getaran itu.

Informasi membangun pemahaman. Namun, pengalamanlah yang membentuk ingatan.

Hanya dengan informasi saja, orang tidak akan bertindak. Mereka akan bertindak ketika mengalami sendiri.

Maknanya tidak dapat disampaikan hanya melalui penjelasan. Baru setelah mengalaminya sendiri, barulah hal itu menjadi bagian dari diri kita.


ATSUSHI KABASAWA

FARM8 Co., Ltd.,

Bab berikutnya: “Daerah yang Menjadi Rasi Bintang” Bab 11: Pengalaman Adalah Aset yang Tak Pernah Berkurang

* Artikel ini telah diterjemahkan secara otomatis.

ATSUSHI KABASAWA Japan

Atsushi Kabasawa
Direktur Utama FARM8 Co., Ltd. Koordinator Konten Daerah.
Lahir pada bulan Juni 1979 di Kota Nagaoka, Prefektur Niigata.

Berbasis di Prefektur Niigata, ia menjalankan bisnis dengan tema pemanfaatan sumber daya daerah.
Ia telah menciptakan berbagai produk seperti Pon-shu Guria, Jo-gurt, dan SAKEPSOT, serta mendorong pengembangan produk dan layanan yang menghubungkan sumber daya (konten) yang selama ini terabaikan di daerah dengan gaya hidup masa kini.