GOKU LINK

GOKU LINK

“Wilayah yang Menjadi Konstelasi” Bab 13: Menciptakan Bisnis yang Memberikan Manfaat bagi Wilayah

Di daerah ini, masih ada sejumlah masalah yang belum terselesaikan.

Bukan karena tidak ada yang mengalami kesulitan. Ada juga yang mengalami kesulitan. Solusinya pun pasti ada di suatu tempat. Namun, tetap saja tidak ada tindakan yang diambil.

Mengapa demikian?

Selama ini, saya mengira alasannya adalah uang. Asal ada dana, semuanya bisa berjalan. Asal ada subsidi, masalahnya bisa teratasi. Namun, semakin sering saya terjun langsung ke lapangan, saya menyadari bahwa bukan hanya itu saja.

Yang masih kurang adalah sudut pandang untuk menyadari hal-hal yang belum terlihat sebagai nilai.

Di daerah ini, ada hal-hal yang sudah terlalu biasa sehingga nilainya tidak lagi disadari. Meskipun sumber daya dan orang-orangnya ada, belum ada yang menemukan cara pandang baru mengenai nilainya. Karena itu, masalah-masalah tersebut tetap ada tanpa ada kemajuan.

Dengan mengubah cara pandang, beban akan berubah menjadi sumber daya. Tantangan akan berubah menjadi peluang.

Di balik pemikiran tersebut, terdapat ketertarikan terhadap kata “ekonomi”.

Asal usul kata “ekonomi” berasal dari ungkapan “keiseisai-min”. Mengatur dunia dan menyelamatkan rakyat. Membangun masyarakat yang lebih baik itulah makna ekonomi pada masa lalu.

Para pedagang pada zaman Edo menganggap bahwa peran mereka adalah memperoleh keuntungan sekaligus mendukung kehidupan masyarakat setempat. Pabrik sake mengembangkan budaya lokal sambil memproduksi sake. Para petani melindungi tanah sambil menyediakan pangan. Pedagang sayur menghubungkan satu sama lain sambil menjual bahan makanan. Menjalankan usaha dan memperbaiki kondisi masyarakat setempat pada dasarnya adalah satu kesatuan.

Tanpa disadari, kami pun akhirnya berpisah.

Seiring dengan kemajuan modernisasi dan semakin besarnya skala perusahaan, efisiensi dan keuntungan menjadi hal yang sangat dituntut. Situasi di mana angka-angka lebih diutamakan daripada dampak terhadap masyarakat setempat pun semakin sering terjadi. Dalam konteks itulah perusahaan mulai didefinisikan sebagai entitas yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan.

Akibatnya, berbagai masalah yang sulit ditangani oleh perusahaan pun menumpuk. Masalah yang tidak memiliki prospek pasar. Kegiatan yang tidak menghasilkan laba. Investasi yang tidak dapat dikembalikan dalam jangka pendek. Semua itu kemudian dianggap sebagai “bukan tugas perusahaan”.

Untuk mengisi celah tersebut, muncullah bentuk organisasi yang disebut NPO. Organisasi ini berkembang sebagai lembaga yang tidak bertujuan mencari keuntungan, melainkan mengedepankan penyelesaian masalah sosial sebagai misinya.

Dengan demikian, peran masing-masing pun terbagi. Perusahaan ada untuk menghasilkan laba. Lembaga nirlaba ada untuk menangani masalah sosial. Pemerintah ada untuk kepentingan publik.

Namun, saya merasa ada yang sedikit janggal dengan klasifikasi ini.

Apakah pada dasarnya pabrik sake mengembangkan budaya daerah demi kontribusi sosial? Apakah para petani terus melestarikan tanah mereka demi kegiatan LSM? Saya rasa tidak. Melakukan pekerjaan mereka dengan baik justru menjadi bentuk kontribusi bagi daerah. Bisnis dan kontribusi sosial seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang terpisah.

Selain itu, seharusnya NPO tidak menangani masalah sosial hanya karena “perusahaan tidak melakukannya”. Sebagai organisasi yang paling cepat menyadari masalah dan paling cepat bertindak, NPO berada di garis depan masyarakat. Bukankah itulah esensi dari NPO?

Menghasilkan laba sekaligus meningkatkan kualitas daerah. Karena daerah menjadi lebih baik, laba pun terus mengalir. Dengan menggabungkan sudut pandang ketiga pihak, kita dapat menggali nilai-nilai yang tersembunyi di daerah tersebut. Saya percaya bahwa merancang siklus tersebut adalah peran sejati sebuah perusahaan.

Saya menghormati NPO, pemerintah, maupun perusahaan, masing-masing.

Kekuatan NPO terletak pada kepekaan mereka terhadap masalah. NPO-lah yang pertama kali menyadari penderitaan yang belum diakui sebagai masalah oleh siapa pun. Perasaan “tidak bisa membiarkannya begitu saja” menjadi semacam antena yang memungkinkan mereka turun ke lapangan sebelum pemerintah mulai bertindak. Kemampuan untuk menyoroti hal-hal yang belum diakui sebagai masalah oleh masyarakat. Hal itu tidak dapat diciptakan oleh sistem, melainkan lahir dari kepedulian manusia.

Di sisi lain, kita juga telah melihat adanya tantangan terkait keberlanjutan. Niat baik memang akan terus ada. Namun, dana dan sumber daya itu terbatas. Begitu dana bantuan habis, kegiatan akan terhenti. Begitu para pelakunya kelelahan, kegiatan akan terhenti.

Kekuatan pemerintahan terletak pada keadilan dan keberlanjutan. Jika suatu masalah diakui sebagai tantangan bagi banyak orang, maka sistem dukungan yang berkelanjutan dapat dibangun.Begitu menjadi suatu sistem, sistem tersebut akan terus berlanjut meskipun pelaksananya berganti. Stabilitas dan skala tersebut merupakan kekuatan yang hanya dimiliki oleh pemerintah. Namun, hal-hal yang belum diakui sebagai masalah oleh siapa pun sulit untuk dijangkau. Keterlambatan tersebut bukanlah kelemahan, melainkan struktur yang dirancang untuk menjaga keadilan, tetapi tidak cocok untuk langkah awal.

Kekuatan sebuah perusahaan terletak pada kemampuannya untuk membangun sistem dan menjaganya agar tetap berkelanjutan. Jika ada potensi pasar, perusahaan dapat terus beroperasi meskipun tanpa subsidi. Ketika menemukan nilai baru, perusahaan memiliki kemampuan untuk mewujudkannya menjadi sebuah bisnis. Namun, jika potensi pasar tidak terlihat, perusahaan tidak dapat bertindak. Meskipun ada nilai, jika nilai tersebut tidak dapat diubah menjadi peluang pasar, perusahaan tidak dapat bertindak.

Tentu saja, pihak-pihak yang ada di wilayah tersebut tidak hanya terbatas pada LSM, pemerintah, dan perusahaan.

Petani memiliki peran sebagai petani. Pabrik sake memiliki peran sebagai pabrik sake. Universitas memiliki peran sebagai universitas. Lembaga keuangan memiliki peran sebagai lembaga keuangan. Asosiasi warga, asosiasi perdagangan, sekolah, dan media lokal juga masing-masing memiliki peran.

Masing-masing melihat pemandangan yang berbeda.

Para petani memandang daerah dari sudut pandang lahan pertanian. Pemerintah memandang daerah dari sudut pandang sistem. Perusahaan memandang daerah dari sudut pandang pasar. Universitas memandang daerah dari sudut pandang penelitian. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) memandang daerah dari sudut pandang masalah.

Oleh karena itu, tantangan yang terlihat pun berbeda, begitu pula cara memandang nilai. Bagi petani, keadilan berarti menghasilkan panen yang baik. Bagi pemerintah, keadilan berarti bersikap adil. Bagi LSM, keadilan berarti tidak membiarkan orang yang membutuhkan terlantar. Bagi perusahaan, keadilan berarti menciptakan sistem yang berkelanjutan. Semuanya benar. Namun, justru karena semuanya benar, pandangan kita pun saling bertentangan.

Alasan saya menulis tentang LSM, pemerintah, dan perusahaan bukanlah karena ketiga pihak ini istimewa. Saya mengemukakannya sebagai contoh yang mudah dipahami agar kita dapat memahami bahwa di tingkat lokal terdapat sudut pandang yang berbeda-beda tergantung pada posisi masing-masing.

Dengan bertemunya berbagai sudut pandang, nilai-nilai yang tidak dapat ditemukan oleh satu orang pun menjadi terlihat. Untuk itulah, kehadiran masing-masing individu sangatlah penting.

Namun, pada kenyataannya, masing-masing pihak sering kali hanya bergerak dalam lingkupnya sendiri. LSM berbicara dengan istilah LSM, perusahaan bertindak berdasarkan logika perusahaan, dan pemerintah menjalankan urusannya sesuai prosedur pemerintah. Meskipun mereka melihat wilayah yang sama, apa yang mereka lihat sangat berbeda sehingga pesan yang disampaikan tidak sampai.

Dengan berdiri di tengah-tengah keduanya, menerjemahkan sudut pandang masing-masing, dan menemukan makna baru. Di situlah, menurut saya, letak peran bisnis lokal.

Sebelum memulai usaha ini, saya terlibat dalam program bantuan yang dijalankan oleh sebuah organisasi nirlaba.

Masalah yang diidentifikasi oleh NPO tersebut memang nyata, dan niat para pelakunya pun tulus. Namun, tidak ada mekanisme yang berkelanjutan.

Masih kurang orang yang mampu mengubah nilai-nilai yang ditemukan oleh organisasi nirlaba menjadi bentuk yang berkelanjutan.

Mungkin aku bisa masuk ke sana.

Dengan semangat seperti itulah kami mendirikan FARM8 pada tahun 2015.

Ide pertama yang terlintas di benak saya adalah konsep “perusahaan makanan”.

Ini adalah sistem di mana petani mengubah bahan pangan yang berlebih menjadi token, dan keuntungan yang dihasilkan dari pengolahan serta penjualannya didistribusikan kembali kepada para peserta.

Saat itu, saya juga melihat potensi besar dalam teknologi blockchain, dan menurut saya itu adalah ide yang sangat menarik dari segi teknis.

Namun, ketika saya berbicara dengan para petani di lapangan, apa yang saya katakan sama sekali tidak sejalan dengan apa yang mereka katakan.

Yang diinginkan para petani adalah penyelesaian masalah-masalah di bidang pertanian, bukan mekanisme token itu sendiri.

Itu hanyalah teori belaka.

Nilai tidak dapat ditemukan hanya di atas meja.

Hal ini hanya dapat dipahami dengan turun langsung ke lapangan, mendengarkan cerita penduduk setempat, serta mengetahui apa yang menjadi kendala dan apa yang mereka harapkan.

Itulah pelajaran yang saya peroleh dari kegagalan pertama itu.

Jika dipikir-pikir kembali sekarang, mungkin saya bukanlah sedang berusaha menemukan nilai, melainkan sedang berusaha menciptakan suatu sistem.

Sebagai penasihat untuk proyek-proyek yang terkait dengan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, saya terlibat dalam dukungan industrialisasi sektor pertanian dan mulai menerima konsultasi dari para petani serta pelaku usaha makanan di seluruh Jepang.

Yang terlihat di sana adalah berbagai tantangan yang berbeda di setiap daerah, serta kekayaan yang hanya ada di daerah tersebut.

Di berbagai daerah, terdapat bahan-bahan dan teknik yang berakar pada tanah setempat, serta orang-orang yang dengan sungguh-sungguh menekuni kerajinan.

Mereka semua terus mengasah nilai-nilai masing-masing.

Namun, saya juga merasa bahwa mekanisme maupun peran yang memungkinkan nilai tersebut terhubung dengan nilai lain dan dipahami sebagai makna baru tampaknya belum cukup berkembang.

Bukan karena nilainya kurang. Justru, setiap nilai itu sendiri sudah cukup bersinar. Hanya saja, mungkin masih sedikit orang atau sistem yang mampu menghubungkan nilai-nilai tersebut dan menyampaikannya sebagai makna.

Jika saya renungkan sekarang, saya rasa yang saya cari bukanlah bintang baru, melainkan garis yang menghubungkan bintang-bintang yang sudah ada.

Gagasan tersebut pertama kali diwujudkan dalam bentuk perpaduan buah-buahan yang tidak memenuhi standar dengan sake.

Bahkan buah-buahan yang disebut “di luar standar” pun, rasanya tidak berubah—perbedaannya hanya terletak pada penampilan. Para petani memanfaatkannya dalam berbagai cara, baik dengan menjualnya untuk diolah maupun mengonsumsinya sendiri. Hanya karena diberi label “di luar standar”, bukan berarti nilai aslinya hilang.

Di sisi lain, konsumsi sake terus menurun.

Pesan ini belum sampai ke generasi muda.

Tidak ada alasan untuk meminumnya.

Pabrik sake menyadari tantangan-tantangan tersebut.

Buah-buahan yang tidak memenuhi standar sebenarnya sudah memiliki nilai.

Para petani sudah mengetahui hal itu.

Sake pun sudah memiliki nilai tersendiri.

Pabrik sake itu sudah mengetahuinya.

Yang kurang bukanlah nilainya.

Itu adalah garis yang menghubungkan keduanya.

Buah-buahan yang tidak memenuhi standar mungkin bisa menjadi pintu masuk baru ke dunia sake.

Sake mungkin dapat menawarkan cara baru untuk menikmatinya melalui perpaduan dengan buah-buahan.

Dan begitulah lahirlah “Pon-shu Guria”.

Pilihan pasar bagi para petani semakin banyak.

Pabrik sake berhasil menawarkan nilai baru.

Bahkan orang yang tadinya tidak suka sake pun akhirnya menyukainya.

Pihak penjual pun memperoleh keuntungan.

Jadi, hal itu berlanjut hingga tahun berikutnya.

Tanpa disadari, jumlah penjualan kumulatifnya telah melampaui 900.000 botol, dan buah-buahan yang semula tidak memenuhi standar kini dapat dinikmati oleh banyak orang; hal ini pun menjadi pemicu bagi banyak orang untuk mencoba minum sake.

Ini bukanlah sekadar pengembangan produk. Kami menemukan makna baru di antara nilai-nilai yang sudah ada. Mekanisme yang diterapkan selanjutnya memiliki ciri khas tersendiri.

Hal ini berarti setiap orang yang terlibat akan memperoleh manfaatnya masing-masing. Sistem yang hanya mengandalkan niat baik seseorang akan terhenti begitu orang tersebut mencapai batas kemampuannya. Sistem yang hanya membebankan beban pada satu pihak saja pasti akan runtuh akibat ketidakseimbangan tersebut.

Hanya sistem yang memberikan manfaat bagi semua oranglah yang akan terus diwariskan dari tahun ke tahun, dan seterusnya.


Saya juga belajar satu hal penting lagi.

Seiring dengan semakin meluasnya kesadaran akan produk ini, permintaan dari para petani buah agar “buah mereka juga diolah” pun semakin meningkat.

Saat itu, saya sedang berusaha menciptakan sistem yang memungkinkan petani juga bisa menjadi wirausaha.

Namun, pendapat sejujurnya para petani berbeda. Para petani ingin fokus menanam dan mengirimkan buah-buahan.

Mungkin saja saya sedang berusaha mengubah para petani menjadi wirausahawan. Namun, yang sebenarnya diinginkan para petani adalah lingkungan yang memungkinkan mereka untuk fokus pada pertanian. Jika para petani dapat mengabdikan diri sepenuhnya pada pertanian, itu sudah cukup.

Lalu, saya menyadari sesuatu. Saya ternyata berusaha merampas nilai yang dimiliki lawan bicara saya, lalu memaksakan nilai lain kepadanya. Saya menyadari bahwa saya telah mencoba mengubah makna keberadaan seorang petani sesuka hati.

Para petani sebaiknya tetap menjadi petani. Menciptakan lingkungan di mana mereka dapat merasa bangga dengan pertanian dan fokus pada pertanian. Itulah peran saya.

Tidak semua orang harus menjadi wirausaha. Tidak semua orang juga harus menjadi pelaksana pemecahan masalah.

Petani bertani. Pabrik sake memproduksi sake. Lembaga NPO mengidentifikasi masalah. Pemerintah menyusun kebijakan. Perusahaan mewujudkan makna tersebut dalam bentuk bisnis.

Dengan setiap orang menjadi diri sendiri, nilai komunitas secara keseluruhan pun akan meningkat. Bukan dengan merebut peran orang lain, melainkan dengan setiap orang bersinar sesuai caranya masing-masing, pemandangan komunitas pun menjadi lebih kaya. Menurut saya, merancang hal seperti itulah tugas bisnis komunitas.

Saya teringat akan rasi bintang.

Bintang-bintang selalu ada di langit malam. Namun, pada saat seseorang menggambar garis dan memberikan makna, lahirlah rasi bintang. Bukan bintang-bintang itu yang diciptakan, melainkan makna yang diberikan. Bagi mereka yang membaca musim untuk bertani, rasi bintang menjadi kalender. Bagi para pelaut, rasi bintang menjadi peta. Bintang-bintang yang sama itu menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda, tergantung pada orang yang memberinya makna.

Saya rasa hal yang sama juga berlaku untuk wilayah ini.

Setiap petani adalah sebuah bintang. Setiap pabrik sake adalah sebuah bintang. Setiap organisasi nirlaba adalah sebuah bintang. Setiap instansi pemerintah adalah sebuah bintang. Setiap universitas adalah sebuah bintang. Setiap lembaga keuangan adalah sebuah bintang. Baik perkumpulan warga, kawasan perdagangan, maupun pendatang baru, masing-masing adalah sebuah bintang.

Menghubungkan bintang-bintang itu dengan garis, lalu menemukan makna baru. Itulah tugas bisnis lokal.

Pon-shu Guria lahir ketika sebuah garis yang belum pernah dilihat siapa pun ditarik di antara bintang yang bernama “buah di luar standar” dan bintang yang bernama “sake”. FARM8 bukanlah yang menciptakan bintang-bintang itu. FARM8 justru memberikan makna baru pada bintang-bintang yang sudah ada di sana.

Bagi saya, bisnis lokal adalah pekerjaan yang bertujuan untuk menemukan hal-hal yang belum diakui nilainya, memberikan makna baru padanya, dan menjadikannya sebuah sistem yang berkelanjutan.

Di daerah ini, ada hal-hal yang sudah begitu biasa sehingga kita tidak lagi menyadarinya. Ada hal-hal yang begitu lumrah sehingga tidak memiliki nama. Ada pula susunan bintang yang belum pernah digambar oleh siapa pun.

Bukan menciptakan nilai baru, melainkan menemukan kembali nilai yang sudah ada.

Menemukan kembali makna dari bintang-bintang yang tersebar di wilayah ini. Dan menjadikannya sebuah sistem yang berkelanjutan. Bagi saya, bisnis lokal adalah pekerjaan yang bertujuan untuk itu.


ATSUSHI KABASAWA

FARM8 Co., Ltd.,

Bab berikutnya: “Wilayah yang Menjadi Rasi Bintang” Bab 14: Mekanisme di Balik Cahaya Kecil yang Terus Bersinar

* Artikel ini telah diterjemahkan secara otomatis.

ATSUSHI KABASAWA Japan

Atsushi Kabasawa
Direktur Utama FARM8 Co., Ltd. Koordinator Konten Daerah.
Lahir pada bulan Juni 1979 di Kota Nagaoka, Prefektur Niigata.

Berbasis di Prefektur Niigata, ia menjalankan bisnis dengan tema pemanfaatan sumber daya daerah.
Ia telah menciptakan berbagai produk seperti Pon-shu Guria, Jo-gurt, dan SAKEPSOT, serta mendorong pengembangan produk dan layanan yang menghubungkan sumber daya (konten) yang selama ini terabaikan di daerah dengan gaya hidup masa kini.